Kiprah Perawat Indonesia di Jepang
22.34 | Author: ujang sofyan sauri

TOKYO, JUMAT — Hampir seluruh caregivers (perawat untuk kaum lanjut usia) asal Indonesia awalnya mengalami kecanggungan saat memulai aktivitasnya bekerja di berbagai panti jompo Jepang, tetapi pada akhirnya semuanya bisa berjalan lancar.

Demikian kesimpulan yang diperolah Antara di Tokyo, Jumat (30/1), dari berbagai informasi yang masuk baik via telepon maupun surat elektronik.

Sebelumnya, para caregivers Indonesia itu baru saja menerima sertifikat kelulusan bahasa Jepang, setelah enam bulan lamanya menjalani pelatihan bahasa dan budaya Jepang di Yokohama dan Osaka.

Acara pelepasan digelar pada 27 Januari lalu, mengingat keesokan harinya sebanyak 101 cargeivers itu sudah harus meninggalkan pusat pelatihan menuju berbagai panti jompo yang tersebar di kota-kota besar seantero Jepang, seperti Tokyo, Osaka, Nagoya, Hiroshima, dan Kyushu.

Caregivers Indonesia itu mendapat pelatihan di dua tempat, yakni 45 orang di Yokohama (oleh AOTS) dan di Osaka oleh Japan Foundation sebanyak 56 orang.

Menurut perawat yang ditempatkan di panti jompo "Hanashi" Osaka, Ariyani Setyaningsih, saat memulai pekerjaannya membimbing para jompo, dirinya diliputi rasa canggung, tetapi pengalamannya selama belasan tahun menjadi perawat membuatnya cepat menyesuaikan diri.

"Awalnya grogi betul, mungkin karena suasana baru, tetapi lama-lama bisa juga enjoy juga," kata Ariyani, perawat yang pernah bekerja di beberapa rumah sakit di Jakarta itu.

Dengan berbekal pengalamannya itulah dia memulai pekerjaannya dengan senyum yang lama kelamaan ternyata bisa membuat dirinya dan juga para orangtua yang sudah lanjut usianya itu menjadi nyaman dalam berkomunikasi.

Kondisi yang sama ternyata juga dialami oleh para kaum jompo Jepang tersebut. Mereka awalnya hanya berdiam diri saja saat bertemu untuk pertama kalinya. Namun, akhirnya kedua pihak bisa menikmati perkenalan itu setelah mengawalinya dengan saling melontarkan senyum.

Menurut Yomiuri Shimbun, yang memantau caregivers Indonesia di wilayah Tokomatsu, selatan Jepang (sekitar satu jam dengan pesawat dari Tokyo), para caregivers Indonesia berusaha keras untuk membuat nyaman suasana di antara mereka. "Mereka terlihat bekerja dengan motivasi yang tinggi. Saya yakin mereka akan bekerja dengan baik," kata Ken Ishikawa, direktur adminsitratif di panti jompo tersebut.




Lancar berkomunikasi

Dalam soal komunikasi ini, Antara Tokyo menyaksikan sendiri saat acara perpisahan para caregivers dengan lembaga yang melatih mereka selama di Yokohama Kenshu Center, Selasa (27/1) lalu.

Para caregivers itu dengan fasih bercakap-cakap dengan para tamu Jepang untuk membuktikan kemahiran mereka dalam berbahasa Jepang. Bahkan di akhir acara, para caregivers Indonesia sengaja mendatangi para juru masak dan pembimbingnya untuk mengucapkan salam perpisahan yang dipenuhi dengan suasana haru yang kuat.

Hal ini juga diakui oleh Direktur The Association for Overseas Technical Scholarship (AOTS) Kazuo Kaneko saat memberikan sambutannya. Kazuo Kaneko memuji perawat dan caregivers Indonesia atas semangatnya yang mampu menyelesaikan pelatihan hingga memperoleh sertifikat kelulusan.

Kaneko menjelaskan, yang paling membuat para instruktur kagum adalah semangat orang-orang Indonesia itu untuk menyelesaikan program pelatihan yang berjalan selama enam bulan penuh.

Hal senada juga dibenarkan oleh Konsul Bidang Sosial dan Budaya KJRI Osaka, Patriot Adinarto, yang ikut menyaksikan acara perpisahan caregivers yang di berlangsung di gedung Japan Foundation di Osaka.

"Mereka bisa menyelesaikan programnya dengan baik. Terbukti mereka bisa bercakap-cakap dengan lancar bersama tamu Jepang yang hadir," kata Adinarto lagi.

Para perawat ini akan bekerja di panti jompo Jepang selama tiga tahun, dan sesudahnya diharuskan mengikuti ujian nasional untuk memperoleh sertifikasi keahlian Jepang. Setelah itu bisa tinggal dan memperoleh pekerjaan di Jepang.

Mereka pun dinilai telah mampu beradaptasi secara luwes dengan masyarakat Jepang, terlihat dari kemampuan mereka bersosialisasi tidak hanya dengan para pengajar, tetapi juga terhadap orang-orang Jepang di lingkungan sekitar mereka selama pelatihan.

Para caregivers itu merupakan bagian dari 208 perawat Indonesia yang tiba awal Agustus 2008. Mereka adalah gelombang pertama dari kuota 1.000 perawat untuk masa dua tahun.

Kedatangan perawat Indonesia berdasarkan skema kerja sama strategis Economic Partnership Agreement (EPA) antara kedua negara.

MSH
Sumber : Antara

Read More......
04.46 | Author: ujang sofyan sauri

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan
Cinta bukan membuat kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan
Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat
(Hamka)

Read More......